KH. Ahmad Bishri Mbaru, pendiri YPI Nurul Ulum Padangan, adalah keturunan ke-8 dari Syekh Abdul Jabbar Nglirip Tuban dan keturunan ke-9 dari Syekh Sabil Menak Anggrung Padangan. Inilah silsilah lengkapnya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, nasab dan silsilah bukan sekadar catatan sejarah keluarga — ia adalah sanad kehormatan yang menunjukkan dari mana akar keilmuan dan keberkahan seseorang berasal. KH. Ahmad Bishri Mbaru, pendiri Yayasan Pendidikan Islam Nurul Ulum Padangan, memiliki silsilah nasab yang sangat mulia.
Dua Jalur Nasab yang Mulia
KH. Ahmad Bishri Mbaru tercatat sebagai:
- Keturunan ke-8 dari Syekh Abdul Jabbar — ulama besar dari Nglirip, Tuban, Jawa Timur, yang juga merupakan menantu Syekh Sabil Menak Anggrung
- Keturunan ke-9 dari Syekh Sabil Menak Anggrung — ulama terkemuka Padangan yang warisannya masih terasa hingga hari ini
Garis Nasab dari Syekh Abdul Jabbar
Berikut adalah garis nasab KH. Ahmad Bishri Mbaru dari Syekh Abdul Jabbar Nglirip:
- Syekh Abdul Jabbar (Nglirip, Tuban — menantu Syekh Sabil Menak Anggrung)
- Kiai Anom
- Kiai Juraij
- Kiai Istad
- Kiai Syihabuddin
- Kiai Syahid Kembangan
- Kiai Sanusi Mbarangan (Kakek buyut · Ulama Mbarangan Padangan)
- Warsun
- KH. Ahmad Bishri Mbaru (Pendiri YPI Nurul Ulum, 1920–1993)
Syekh Abdul Jabbar Nglirip: Siapa Beliau?
Syekh Abdul Jabbar adalah ulama besar yang berdakwah di kawasan Tuban dan sekitarnya. Nglirip, yang kini dikenal sebagai daerah wisata religi di Tuban, Jawa Timur, adalah tempat di mana beliau dimakamkan. Makamnya masih ramai dikunjungi hingga hari ini sebagai salah satu ziarah wali di Jawa Timur.
Hubungan Syekh Abdul Jabbar dengan Padangan tidak berhenti di sini — beliau menikah dengan putri Syekh Sabil Menak Anggrung dari Padangan, menjadikan dua kawasan ini terhubung melalui ikatan keluarga dan keilmuan sejak berabad-abad silam.
Kakek Buyut: Kiai Sanusi Mbarangan
Dalam rantai nasab ini, sosok Kiai Sanusi Mbarangan patut mendapat perhatian khusus. Sebagai kakek buyut KH. Ahmad Bishri, beliau adalah ulama yang menjaga tradisi keilmuan di kawasan Mbarangan, Kuncen Padangan. Dari beliaulah tradisi keilmuan Islam di keluarga ini diwariskan secara konsisten.
Nasab sebagai Amanah
Bagi KH. Ahmad Bishri, nasab yang mulia ini bukan sekadar kebanggaan silsilah. Ia adalah amanah. Darah ulama yang mengalir dalam dirinya mengharuskan ia hidup dan berjuang sebagaimana para leluhurnya — melalui jalur ilmu dan pendidikan.
Inilah yang mendorong beliau, di usia yang masih muda, untuk belajar langsung di bawah bimbingan KH. Hasyim Jalakan, menjadi pengurus NU, membangun majelis ta'lim, dan akhirnya mendirikan yayasan pendidikan yang warisannya masih dirasakan hingga 78 tahun kemudian.
Yayasan Pendidikan Islam Nurul Ulum bukan hanya institusi pendidikan. Ia adalah perwujudan nyata dari sebuah silsilah ulama yang tak pernah putus — dari Syekh Abdul Jabbar di Nglirip Tuban, mengalir ke Dusun Mbarangan Padangan, dan terus mengalir melalui generasi-generasi santri yang lahir dari madrasah ini.
