Perjalanan luar biasa madrasah yang didirikan KH. Ahmad Bishri dari sebuah surau kecil di Padangan Bojonegoro tahun 1947 — kini menjadi madrasah berprestasi di tingkat nasional.
Andai KH. Ahmad Bishri Mbaru masih hidup, beliau pasti tersenyum. Madrasah yang beliau rintis dari sebuah surau kecil di Dusun Barangan, Padangan, pada 1 September 1947 — kini menjadi madrasah yang namanya disebut di tingkat nasional.
Prinsip yang Tak Pernah Berubah
Satu prinsip yang selalu dijaga sejak KH. Ahmad Bishri mendirikan lembaga ini: "Tidak ada anak yang boleh tertinggal dari pendidikan hanya karena keterbatasan." Prinsip inilah yang melahirkan program Beasiswa Yatim MI Nurul Ulum — program beasiswa untuk anak yatim dan piatu yang masih berjalan hingga hari ini.
Prinsip yang sama juga terlihat dalam kebijakan pendaftaran GRATIS yang diterapkan MI Nurul Ulum Banjarjo. Di tengah banyak sekolah yang menetapkan biaya pendaftaran, MI Nurul Ulum teguh pada warisan pendirinya.
Dari Surau ke Gedung 12 Kelas
Perkembangan fisik madrasah mencerminkan kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh:
- 1947: Berawal dari surau kecil di Dusun Barangan, Desa Kuncen
- 1947–1980: Berkembang perlahan namun konsisten, mendidik ratusan generasi Padangan
- 1993: KH. Ahmad Bishri wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan keluarga dan ulama setempat
- 2015: Yayasan mendapat pengakuan hukum formal melalui akta notaris
- Kini: Gedung permanen dengan 12 ruang kelas, mushola kapasitas 50 orang, TV Edukasi di setiap kelas, dan CCTV keamanan
Prestasi yang Menjawab Amanah
Jika KH. Ahmad Bishri mendirikan madrasah untuk membawa cahaya ilmu di Padangan, generasi kini menjawab amanah itu dengan prestasi nyata:
- Medali Perak & Perunggu Olimpiade Matematika Nasional IPSIC 2025
- Juara 1 Atletik Turbo Throwing tingkat Jawa Timur — dua tahun berturut-turut (2025 & 2026)
- Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia Karesidenan Bojonegoro-Lamongan 2025
- Total 17+ penghargaan hanya di tahun 2025
Kurikulum yang Mewarisi Semangat Pendiri
MI Nurul Ulum tidak sekadar mengejar prestasi modern. Kurikulum Madin (Madrasah Diniyah) yang terintegrasi dalam keseharian siswa — mengajarkan fiqih dari kitab klasik, huruf pegon, dan akhlak islami — adalah kelanjutan langsung dari metode KH. Ahmad Bishri yang belajar kitab kuning di bawah bimbingan KH. Hasyim Jalakan.
Sambungnya sanad keilmuan klasik pesantren dengan pendekatan Kurikulum Merdeka modern inilah yang membuat MI Nurul Ulum berbeda dari madrasah lainnya.
Satu-Satunya yang Hadir Secara Digital
Dari 4 Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Padangan, hanya MI Nurul Ulum yang kini hadir secara digital. Website ini adalah cara madrasah memperkenalkan warisan KH. Ahmad Bishri kepada dunia — sesuai dengan semangat beliau bahwa dakwah Islam harus berjalan seiring kemajuan zaman.
